Rumah Produksi Madinah Al i’lami, Pusat Penyebaran Konten Agama di Kota Tarim

Anggota Ahgaff Menulis berkunjung ke kantor bagian penyiaran kota Tarim.

Dua minggu yang lalu, saya bersama teman-teman dari organisasi “Ahgaff Menulis” diberi kesempatan untuk mengunjungi kantor bagian penyiaran kota Tarim. Tentu saja ini kabar baik buat saya, yang baru tiga bulan bergabung ke organisasi ini, tapi dapat kesempatan studi lapangan, dan melihat langsung proses penyiaran yang banyak meliput kegiatan-kegiatan di kota Tarim.

Kunjungan ini merupakan undangan langsung dari direktur utama Production House (PH) Markaz Al-Madinah Al-I’lami, Al-Ustadz Ahmad bin Sa’ad Al Khotib, sebagai bentuk apresiasi beliau kepada semua mahasiswa ataupun santri, karena sudah giat dalam mensyiarkan keistimewaan kota Tarim. Baik itu melalui media tulis ataupun virtual, hingga Tarim banyak dikenal masyarakat, khususnya Indonesia.

Ketika saya sampai disana, kantornya terlihat sederhana. Di dalamnya hanya ada 1 ruangan untuk mengedit video, 1 ruangan untuk menyimpan data, 1 ruang tamu, dan 1 studio berukuran lapangan futsal yang berisi 2 buah dekorasi. Salah satunya baru saja jadi, bau catnya pun masih terasa. Kata Ust. Ahmad, itu untuk acara Al-Habib Umar bin Hafidz yang akan berlangsung selama bulan Ramadhan. Di studio inilah saya bersama teman-teman dijamu si empunya.

Pertama kali melihat beliau saya merasa kagum. Wajah beliau teduh menyenangkan, mulutnya tak lepas dari senyuman, cara bicara beliau pun terdengar jelas dan fasih, beda dengan kebanyakan orang arab yang terdengar campur aduk ketika berbicara, apalagi dengan bahasa Arab Amiyahnya (bahasa lokal).

Foto Ust. Ahmad bin Sa’ad. Sumber: Ahgaff Pos Official.

Dulunya beliau merupakan santri di Darul Mustofa, Tarim. Bermain multimedia merupakan hobinya sejak lama. Akhirnya, ketika lulus Aliyah beliau pun merasa bimbang, memilih antara masuk bangku perkuliahan atau melanjutkan pesantrennya. Apalagi beliau lahir dari keluarga Al Khotib, yang selama ratusan tahun terkenal dengan latar belakang agamanya. Kemudian beliau sowan kepada Al Habib Umar untuk menyampaikan rasa bimbangnya. Oleh Habib Umar, beliau pun diberi nasihat, untuk mendalami hobi tersebut yang insyaallah ke depannya akan bermanfaat juga untuk agama.

Kebimbangan Ust. Ahmad tidak sampai di situ. Kampus dengan jurusan multimedia hanya beliau temukan di Kota Aden. Salah satu kota besar yang lingkungannya sangat berbeda dengan Tarim. Beliau khawatir akan terpengaruh oleh lingkungan perkotaan. Mendengar hal tersebut Habib Umar pun kembali memberi nasihat, bahwa seorang mukmin sejati, tidak akan terpengaruh oleh lingkungan yang buruk, dia akan tetap teguh dengan prinsip yang dipegangnya. Pada akhirnya, setelah semua nasehat diberikan, beliau pun memantapkan hati dan berangkat menuju bangku perkuliahan.

Rumah produksi ini masih tergolong baru. Setelah beliau menyelesaikan perkuliahan, pada tahun 2010 beliau mulai merintis kantor tersebut. Tentunya perjuangan beliau tidaklah mudah. Baik dari alat-alat produksi yang beliau cicil, hingga sarana penyiaran Hadramaut yang masih minim sekali. Mendengar cerita tersebut, ada dari kami yang bertanya:

“Ustad, bagaimana antum mengatasi sinyal yang lelet seperti ini?”. Mendengar itu, kami semua pun tertawa.

Ternyata prasangka kami benar, tidak mudah mengatasi sinyal di sini. Beliau bercerita, bahwa untuk mengupload file video berukuran sedang saja, beliau menitipkan flashdisk terlebih dahulu ke kota Taiz, kota yang sangat jauh dari Tarim, untuk kemudian diupload disana. Dan untuk file yang berukuran besar, beliau akan mengirimkan file berupa harddisk ke Mesir, untuk diupload disana. Adapun acara live tv, beliau menggunakan satelit pemancar milik Habib Umar yang masih murah harganya.

Tentu perjuangan beliau yang seperti itu, didasari dengan niat tulus untuk berkhidmah. Menyebarkan agama dan mengenalkan Tarim ke penjuru dunia. Makanya, ketika di akhir kalamnya, beliau berpesan untuk selalu semangat dalam membantu menyiarkan agama. Sumber daya yang ada di Indonesia lebih maju dari Tarim, jangan sampai kita kalah dengan tontonan luar, yang sia-sia semata.

Dengan dasar inilah, beliau pun hendak menawarkan bantuan kepada kita, baik itu berupa pelatihan, ataupun memberikan file video milik mereka. Tentu saja ini sangat berharga, mana ada rumah produksi yang mau membagi file milik mereka secara cuma-cuma? Tanpa ada niatan tulus mensyiarkan agama, tentu hal ini sulit dilakukan.

Dari rumah produksi ini, mereka berhasil membuat aplikasi “Sanad” yang dapat kita unduh di handpone kita. Aplikasi ngaji virtual, yang langsung diajari para masyayikh dan habaib Tarim, terutama Al Habib Umar bin Hafidz. Kita juga bisa melihat video mereka melalui channel you tube “قناة الإرث النبوي”. Ada video kegiatan majelis-majelis di Tarim, nasyid hadramaut, ataupun liputan seputar kegiatan Tarim.

Studio milik mereka memanglah kecil, namun semangat berkhidmah dan mensyiarkan agama sangatlah besar, dan akan lebih besar lagi.

Dua Bait Sya’ir di Sebuah Warung, Pengingat Hakikat Sebuah Pakaian.

إذا المرء لم يلبس ثيابا من التقى # تقلب عريانا وإن كان كاسيا
وخير لباس المرء طاعة ربه # و لا خير فيمن كان لله عاصيا

“Ketika seseorang tidak mengenakan pakaian ketaqwaan # Dia sebenarnya telanjang, walaupun memakai sandang.”

“Sebaik-baik pakaian adalah keta’atan kepada Tuhan # Dan seseorang yang bermaksiat kepadaNya, tidak ada keindahan dalam dirinya.”

Dua bait syair ini saya temukan tadi malam ketika mampir di warung untuk santai-santai sejenak, istilahnya ngopi lah, tapi gak ada kopinya.

Warungnya berada di depan madrasah (Ribat) Tarim, yang merupakan pesantren pertama yang dibangun di jantung kota Tarim. Disampingnya ada masjid Jami’ Tarim, dan juga pasar (Suq Tarim), yang memang jaraknya saling berdekatan.

Melihat dua bait syair di pusat keramaian ini (baca: pasar), saya pikir, ini merupakan sebuah pengingat. Dimana kita biasa berpikir, bahwa semakin bagus baju yang kita pakai, semakin indah kita dipandang, semakin tertarik pula orang-orang melihat kita.

Sampai-sampai kita lupa, pakaian yang hakikat adalah yang indah dipandang Tuhan. Pakaian yang paling indah adalah pakaian ketaqwaan.

pakaian yang hakikat adalah yang indah dipandang Tuhan. Pakaian yang paling indah adalah pakaian ketaqwaan.

Disini, saya bukannya menyuruh untuk tidak memperhatikan penampilan. Namun, alangkah indahnya penampilan yang ditambah sebuah ketaqwaan. Contoh, orang yang berpenampilan menarik, yang memakai baju mahal, namun dengan hati yang penuh kesombongan, bagaimana jadinya ?

Di contoh lain, semisal kalian orang yang baik, berpenampilan menarik, memakai baju bagus, ditambah dengan niat menutup aurat, dan juga mengikuti kesunnahan, tentu hasilnya berbeda dengan yang tidak diniati bukan ?

Karna dalam kitab musnad Ahmad bin Hambal, Nabi SAW bersabda :

وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ كِبْرٍ فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنِّي لَيُعْجِبُنِي أَنْ يَكُونَ ثَوْبِي غَسِيلًا ، وَرَأْسِي دَهِينًا ، وَشِرَاكُ نَعْلِي جَدِيدًا ، وَذَكَرَ أَشْيَاءَ ، حَتَّى ذَكَرَ عِلَاقَةَ سَوْطِهِ ، أَفَمِنْ الْكِبْرِ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : ” لَا ، ذَاكَ الْجَمَالُ ، إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ ، وَلَكِنَّ الْكِبْرَ مَنْ سَفِهَ الْحَقَّ ، وَازْدَرَى النَّاسَ ” .

Artinya : “Tidak akan masuk surga, seseorang yang dalam hatinya ada sebiji kesombongan.” Seseorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, saya senang apabila baju saya bersih, rambut saya diminyaki, memakai tali sandal baru… dan dia terus menyebut barang-barang miliknya hingga tali cemetinya. Lantas dia bertanya, apa itu semua termasuk kesombongan ?”

Rasulullah menjawab “Bukan, itu termasuk dalam memperindah diri. Karna sesungguhnya, Allah adalah dzat yang Maha indah dan mencintai keindahan. Sedangkan kesombongan, adalah seseorang yang melalaikan kebenaran, dan merendahkan orang lain.”

Semoga dengan tulisan bisa menjadi sebuah pengingat bagi diri kita, supaya dapat memakai pakaian yang hakikat. Yang bukan hanya memperindah diri di pandangan manusia, namun juga di pandangan Allah SWT.

Wallahua’lam Bisshowab.


Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai