Dua Bait Sya’ir di Sebuah Warung, Pengingat Hakikat Sebuah Pakaian.

إذا المرء لم يلبس ثيابا من التقى # تقلب عريانا وإن كان كاسيا
وخير لباس المرء طاعة ربه # و لا خير فيمن كان لله عاصيا

“Ketika seseorang tidak mengenakan pakaian ketaqwaan # Dia sebenarnya telanjang, walaupun memakai sandang.”

“Sebaik-baik pakaian adalah keta’atan kepada Tuhan # Dan seseorang yang bermaksiat kepadaNya, tidak ada keindahan dalam dirinya.”

Dua bait syair ini saya temukan tadi malam ketika mampir di warung untuk santai-santai sejenak, istilahnya ngopi lah, tapi gak ada kopinya.

Warungnya berada di depan madrasah (Ribat) Tarim, yang merupakan pesantren pertama yang dibangun di jantung kota Tarim. Disampingnya ada masjid Jami’ Tarim, dan juga pasar (Suq Tarim), yang memang jaraknya saling berdekatan.

Melihat dua bait syair di pusat keramaian ini (baca: pasar), saya pikir, ini merupakan sebuah pengingat. Dimana kita biasa berpikir, bahwa semakin bagus baju yang kita pakai, semakin indah kita dipandang, semakin tertarik pula orang-orang melihat kita.

Sampai-sampai kita lupa, pakaian yang hakikat adalah yang indah dipandang Tuhan. Pakaian yang paling indah adalah pakaian ketaqwaan.

pakaian yang hakikat adalah yang indah dipandang Tuhan. Pakaian yang paling indah adalah pakaian ketaqwaan.

Disini, saya bukannya menyuruh untuk tidak memperhatikan penampilan. Namun, alangkah indahnya penampilan yang ditambah sebuah ketaqwaan. Contoh, orang yang berpenampilan menarik, yang memakai baju mahal, namun dengan hati yang penuh kesombongan, bagaimana jadinya ?

Di contoh lain, semisal kalian orang yang baik, berpenampilan menarik, memakai baju bagus, ditambah dengan niat menutup aurat, dan juga mengikuti kesunnahan, tentu hasilnya berbeda dengan yang tidak diniati bukan ?

Karna dalam kitab musnad Ahmad bin Hambal, Nabi SAW bersabda :

وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ كِبْرٍ فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنِّي لَيُعْجِبُنِي أَنْ يَكُونَ ثَوْبِي غَسِيلًا ، وَرَأْسِي دَهِينًا ، وَشِرَاكُ نَعْلِي جَدِيدًا ، وَذَكَرَ أَشْيَاءَ ، حَتَّى ذَكَرَ عِلَاقَةَ سَوْطِهِ ، أَفَمِنْ الْكِبْرِ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : ” لَا ، ذَاكَ الْجَمَالُ ، إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ ، وَلَكِنَّ الْكِبْرَ مَنْ سَفِهَ الْحَقَّ ، وَازْدَرَى النَّاسَ ” .

Artinya : “Tidak akan masuk surga, seseorang yang dalam hatinya ada sebiji kesombongan.” Seseorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, saya senang apabila baju saya bersih, rambut saya diminyaki, memakai tali sandal baru… dan dia terus menyebut barang-barang miliknya hingga tali cemetinya. Lantas dia bertanya, apa itu semua termasuk kesombongan ?”

Rasulullah menjawab “Bukan, itu termasuk dalam memperindah diri. Karna sesungguhnya, Allah adalah dzat yang Maha indah dan mencintai keindahan. Sedangkan kesombongan, adalah seseorang yang melalaikan kebenaran, dan merendahkan orang lain.”

Semoga dengan tulisan bisa menjadi sebuah pengingat bagi diri kita, supaya dapat memakai pakaian yang hakikat. Yang bukan hanya memperindah diri di pandangan manusia, namun juga di pandangan Allah SWT.

Wallahua’lam Bisshowab.


Diterbitkan oleh Muhammad An Nafi'i

Nyoba nulis apa yang dialami, dipikirkan, dilamuni oleh saya sendiri. semoga aja ada manfaat atau pengalaman yang bisa jadi faedah. 😊

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai